Sabtu, 07 Maret 2020

Air

19.38
"Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur? " QS Al Waqi'ah: 68-70

Allah, betapa Maha Baik- nya Dia. Mencipta air yang bening lagi tawar sebagai penawar dahaga bagi makhluk yang ada di bumi. Kita hanya menerima keberadaan air, menikmatinya, bahkan sering membuang-buangnya.

Di belahan bumi lain, kekeringan kerap melanda. Hujan jarang turun. Tanah mengeriput menanti basuhan air. Hewan dan tumbuhan menanti dalam sabar, kapan hujan datang sehingga air minum berlimpah. Manusia pun sama. Menanti nyanyian hujan yang mengetuk atap rumah.

Pastilah air dinanti banyak makhluk hidup, terutama manusia. Dengan banyaknya keperluan harian, kita tidak mungkin berlepas dari air. Mandi, menyuci, memasak, istinja, semua perlu air. Apalagi kita ini dicipta 60 persen terdiri dari air.

Metabolisme tubuh kita menjadi tidak optimal saat kita kurang air. Pembuangan zat racun sisa metabolisme tubuh akan terganggu. Yang akhirnya racun-racun itu akan mengendap dalam tubuh, mengganggu kesehatan. Ya, karena airlah yang membawa zat-zat racun itu ke tempat pembuangannya seperti ginjal, paru-paru, kulit, dan usus besar.
Air juga yang membantu sel mengolah nutrisi yang masuk. Menjadikannya energi bagi aktivitas tubuh.

Maka jangan sia-siakan air seakan ia tidak berguna bagi kita. Menyisakan air minum dalam kemasan hanya untuk dibuang, duh... kok rasanya kurang bersyukur ya. Tidak boleh ada perkataan ah, cuman air ini. Seakan menyisakan air dalam kemasan lalu membuangnya adalah hal yang biasa.

Alhamdulillah, Allah masih menurunkan hujan. Bersyukur Allah masih memberi sumber air yang baik. Kita masih bisa minum saat haus. Air masih terasa segar, bukan asin.

Sadarilah, jika air tidak lagi diturunkan. Jika air terasa asin, hingga saat meminumnya tidak juga menghilangkan dahaga. Jika kita tidak bisa lagi minum karena kerongkongan sakit. Tidak bisa minum banyak karena ginjal sakit. Mau ke mana dan mau berbuat apa.

Saat nikmat dicabut satu-satu, yang ada hanya penyesalan karena tidak bersyukur saat masih diberi air yang berlimpah. Hargailah dan gunakan air secukupnya. Agar kita tidak kufur nikmat. Allah, masukkan kami ke dalam golongan hamba-hamba Mu yang selalu bersyukur.

#30DWCJilid22
#pejuang30dwc
#Day21
#Squad4
#pengingatdiri

Senin, 02 Maret 2020

Tulang Belakangku Sayang

22.15
Pernahkah membayangkan, ketika kita nggak punya tulang belakang? Bagaimana gerakan kita? Meliuk-liuk? Merayap? Pasti nggak terbayang seperti apa bentuk kita kalau Allah nggak memberi tulang belakang.

Itulah satu lagi nikmat Allah yang diberikan untuk kita manusia. Yup, itulah nikmat yang benar-benar harus disyukuri. Kenapa? Karena dengan tulang belakang kita berdiri. Dengannya kita berjalan. Dengannya kita duduk. Dengannya saraf-saraf akan terjaga. Dengan tulang belakang juga kita beribadah dengan maksimal.

Nah, apalagi yang kurang dari Allah. Masa masih mengeluh juga. Padahal masih banyak yang menderita dari kita. Seseorang pernah nggak bisa berdiri dan berjalan karena kecelakaan mencederai tulang belakangnya. Bertahun-tahun hanya berbaring di tempat tidur. Mau memiringkan badan pun, susah bahkan harus diiringi jerit kesakitan.
Ada pula yang bolak balik sesak nafas karena bentuk tulang belakangnya nggak normal.

Kita masih beruntung kan, nggak mengalami semua itu. Aktivitas kita nggak terganggu. Maka seharusnya ibadah kita pun nggak boleh kendor. Apalagi salat lima waktu. Salat yang dihisab pertama kali. Malulah, sudah berjuta nikmat diberi tapi masih juga melalaikan salat. Itu kan tanda syukur kita pada Allah.

Dan gerakan salat pula yang membantu kita memiliki postur tubuh yang baik. Gerakan salat yang dilakukan dengan sempurna seperti yang dicontohkan Nabi, akan menjaga bentuk tulang belakang kita. Rukuk contohnya. Ketika rukuk, punggung yang lurus 90 derajat dengan kaki akan mengembalikan posisi tulang kita yang mungkin berubah sedikit.

Mengapa berubah? Aktivitas yang kita lakukan sehari-hari kadang kala memaksa tulang belakang bekerja lebih berat. Misalnya saat mengangkat benda berat, posisi saat duduk tidak tegak atau menyilangkan kaki, meletakkan dompet di saku belakang bagi laki-laki, menggendong anak, dan lain-lain.

Kegiatan-kegiatan di atas tanpa kita sadari akan mengubah posisi tulang belakang. Berakibat sering timbul rasa nyeri di pinggang atau panggul. Apalagi jika kita pernah jatuh terduduk, jatuh dari ketinggian, atau tulang belakang tertimpa benda berat. Bertahun-tahun kemudian kita baru merasa efeknya.

Maka apa yang Allah yang perintahkan, pasti ada kebaikan yang menyertainya. Jika mengikuti, insya Allah semua baik- baik saja.

Ada lagi nih, aktivitas yang bisa menjaga tulang belakang kita. Yaitu berkuda. Saat berkuda kita akan menjaga posisi tubuh agar tegak dan seimbang. Sehingga ketika kuda berjalan, kita tidak terjatuh.

Tepat kan Nabi menyuruh kita berolah raga berkuda. Ternyata hikmahnya banyak, salah satunya menjaga kesehatan tulang belakang kita. Karenanya, menjalankan perintah Allah dan mengikuti Rasulullah itu nggak ada ruginya. Semua baik, seiring sejalan dengan ritme hidup kita. Yakinlah!

#30DWCJilid22
#Day16
#Squad4

Minggu, 01 Maret 2020

Kolesterol, Sahabat Tubuhmu

21.31
Coba, coba... kalau mendengar kata kolesterol, apa sih yang terlintas dalam pikiran? Kelebihan lemak, penyakit jantung, stroke. Hii.. kenapa seram-seram ya. Padahal kolesterol itu ciptaan Allah juga, lho dan nggak ada ciptaan Allah itu yang sia-sia. Lantas kenapa banyak yang takut dengan kolesterol? Mungkin karena belum kenal. Tak kenal maka tak sayang. So, mari kita cari tahu apa itu kolesterol.

Kolesterol adalah senyawa lemak yang diproduksi hati. Jadi sebenarnya tubuh kita bisa memproduksi kolesterol sendiri. Jumlahnya 80 persen diproduksi oleh tubuh dan 20 persen dari makanan yang kita makan. Tapi sepertinya kolesterol yang kita konsumsi lebih dari dua puluh persen, ya. Maka jadilah kadar kolesterol makin bertambah dari normal.

Sebenarnya Allah memberi kolesterol itu untuk membantu tubuh membuat hormon, vitamin D, dan zat yang membantu pencernaan. Dan kolesterol yabg diproduksi tubuh tidak berlebihan. Gaya hidup kita yang mengubah keseimbangan yang ada.

Jika kolesterol di jaringan berlebih, maka kolesterol high density lipoprotein (HDL) yang akan membawa kelebihan itu ke hati untuk dibuang. Tapi kalau makanan yang dimakan selalu mengandung lemak, lama-lama hati akan kewalahan untuk mengolahnya. Hingga akhirnya kelebihan lemak itu dibawa lagi oleh kolesterol low density lipoprotein (LDL) ke seluruh sel tubuh juga ke dalam darah. Jadilah saat memeriksa laboratorium kadarnya dalam darah meningkat.

Melihat peran yang dilakukan HDL dan LDL itulah, disebutkan kolesterol baik dan kolesterol jahat. Padahal nggak ada yang buruk. Karena memang begitulah perintah Allah pada kolesterol LDL, untuk menjaga keseimbangan tubuh terutama organ hati. Nggak kebayang jika kolesterol LDL nggak ada, lemak akan bertumpuk-tumpuk di hati nggak ada yang membawanya keluar untuk mengurangi beban kerja hati. Bagaimana jadinya tubuh ini?

 Maka agar kolesterol tidak menumpuk di sel-sel tubuh dan darah, perbaiki gaya hidup kita. Kurangi makanan-makanan yang akan membentuk lemak tubuh seperti lemak trans yang ada di kue, cake, makanan dari tepung, makanan olahan, gula, dan lain-lain.

Bantu hati kita agar tidak lelah mengolah lemak berlebih dengan mengatur makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh. Tinggalkan makanan yang tidak perlu. Karena tubuh masih menyimpan cadangan makanan yang akan diolah menjadi energi, meskipun kita tidak makan sumber karbohidrat setiap hari.

Dan jangan lupa bersyukur karena Allah beri kolesterol HDL dan LDL sebagai salah satu komponen tubuh untuk menjaga keseimbangan lemak dalam tubuh kita. Semua yang diciptakan oleh-Nya pastilah memberi manfaat bagi kita dan seimbang dalam segala hal.

#30DWCJilid22
#Day15
#Squad4

Sabtu, 29 Februari 2020

Gula, Tak Semanis Namanya

20.06
Hari panas, melihat minuman dingin terpajang di reklame cafe. Huff... siapa yang nggak tergoda mencicipinya. Belum lagi kue-kue dengan berbagai toping, benar-benar mengundang selera. Mengajak kaki melangkah ke dalam, sekedar duduk santai melepas penat dan panas ditemani segelas thai tea yang kekinian. Segar. Adem. Semua gundah ikut pergi.

Itulah bayangan yang ada dalam kepala ketika siang terik mendamba es teh manis. Tapi kalau dipikir, bukannya setiap yang manis belum tentu baik buat tubuh, ya. Lihat saja sajian yang ada saat ini. Kebanyakan penuh dengan tepung, gula, pewarna, creamer, dan lain sebagainya. Dikemas dengan cantik, dipermanis dengan warna warni, tentu menarik mata untuk mencicipi.

Tetapi jika diteliti, makanan itu kosong zat gizi. Kurang vitamin dan mineral, hanya kaya dengan gula refinasi. Gula refinasi yang ada pada makanan pabrik, lebih berbahaya dari pada kokain. Ketika kita mengonsumsi gula, tubuh akan terus menagih rasa manis. Sehingga jumlah yang sedikit nggak cukup, minta lagi dan lagi. Kan gawat.

Efek kelebihan gula rafinasi itulah yang dikhawatirkan, yang terutama adalah naiknya kadar gula darah. Jika insulin sudah nggak mampu lagi menangani kelebihan gula, akhirnya gula akan ikut berjalan-jalan di sepanjang jalan kenangan. Eh... pembuluh darah. Diabetes lah jadinya.

Kebutuhan kita akan gula rafinasi itu nggak banyak, kok. Karena dari makanan segar yang kita makan, sudah cukup mengandung gula. Buah, sayur, umbi-umbian, beras, mengandung gula alami. Itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan gula tubuh kita.

Sekiranya kita hanya makan makanan alami, rasanya sih penyakit gaya hidup itu ogah mampir ke tubuh kita. Sel-sel lambung akan bahagia mengolah makanan dan minuman yang masuk. Usus kecil pun akan mudah memilah zat gizi yang pantas masuk ke seluruh sel.

Nggak perlu mencari makanan olahan karena semua nutrisi telah terpenuhi. Kita kan makan bukan untuk kenyang, tetapi mencukupi zat-zat baik yang diperlukan tubuh agar kita bisa berbakti kepada Rabb penguasa alam semesta.

Apalagi kita muslimah, yang mengemban tugas mulia sebagai ibu. Menyediakan makanan dan minuman yang halal dan baik adalah ladang ibadah kita. Sehingga ilmu gizi sederhana perlu kita pelajari.

Kita pasti bisa, belajar sedikit demi dan mengikuti pola makan Rasulullah. Makan tidak berlebihan, berhenti sebelum kenyang dan memilih makanan yang baik.

#30DWCJilid22
#Day14
#PengingatDiri

Jumat, 28 Februari 2020

Emosi? Jangan Dituruti

19.50
Emosi berpengaruh pada kesehatan? Begitulah menurut Pengobatan Timur. Emosi adalah karunia Allah. Diberikan agar kita dapat merasakan dan beradaptasi dengan lingkungan. Tanpa emosi, bagaimana cara kita bersosialisasi dengan orang lain? Sulit, bukan?

Saat ada berita duka, wajah kita datar nggak menanggapi. Waktu gembira pun, wajah kita datar. Terbayang bagaimana jika di dunia semua manusia tanpa emosi. Bertemu tetangga, tanpa senyum. Kok seram, ya.

Emosi yang normal memang diperlukan. Tetapi jika berlebihan, emosi itu akan menyakiti organ tubuh. Misalnya pemarah. Sedikit-sedikit marah karena hal nggak jelas. Bahkan ikut emosi ketika mendengar atau membaca berita di media, orang lain punya masalah kita juga ikut sewot. Hati-hati karena mereka yang suka marah, cenderung terkena penyakit hipertensi.

Waktu marah, jantung akan bekerja lebih cepat agar darah ke otak bisa tercukupi. Hormon anak ginjal akan diproduksi untuk menyeimbangkan kerja jantung. Nah, keseringan marah jantung akan dipaksa kerja keras yang akhirnya tekanan darah akan naik. Sayang kan, hanya karena emosi tidak terkendali kita malah sakit.

Apalagi sebagai muslimah, titik emosi ada di hampir sebagian besar otak. Sehingga emosi lebih dominan. Perhatikan saja muslimah ketika menonton acara televisi, baca buku romantis atau kisah sedih, air mata sering mengucur deras. Itulah emosi. Bahkan waktu gembira pun malah menangis.

Karena emosi lebih dominan, hendaknya muslimah dapat mengendalikannya sesuai dengan aturan Allah. Boleh emosi asal tidak berlebih. Menanggapi sesuatu pun secukupnya saja. Jangan terbawa suasana. Jangan mudah tersulut berita yang belum jelas kebenarannya. Jangan pula ikut menyebarkan isu.

Kadang isu atau berita yang tersebar sudah ditambah bumbu-bumbu penyedap sehingga berita sudah tidak asli. Maka kendalikan hati hanya karena Allah saja. Hati yang tenang kunci hidup sehat. Jangan abaikan menjaga hati. Lembutkan dengan banyak membaca Al Quran. Hindari mendengar berita-berita yang mengumbar kebencian pada sesuatu. Mintalah pertolongan Allah, agar Ia selalu menjaga hati kita dari emosi negatif.


#30DWCJilid22
#Day13
#PengingatDiri